Politikus PKS Sebutkan Empat Keanehan Grasi Ola

TEMPO.COJakarta – Anggota Komisi Hukum Dewan Pewakilan Rakyat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Indra, mengatakan, pemberian grasi pada Franola alias Ola tak masuk akal. Menurut dia, pengurangan hukuman yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sarat keanehan.

“Pemberian grasi kepada Ola yang merupakan bandar narkoba penuh dengan keanehan-keanehan dan terkesan dipaksakan,” katanya, Ahad, 11 November 2012.Keanehan pertama terlihat dari sikap Presiden yang menyatakan bahwa Ola hanyalah seorang kurir. Padahal, fakta persidangan dan putusan hakim, baik Pengadilan Negeri Tangerang, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung, telah memutuskan bahwa Ola merupakan bagian dari sindikat peredaran narkoba.

Keputusan memberikan grasi karena melihat tren penghapusan hukuman mati di negara lain juga dinilai Indra tak tepat. Sebab, dalam peraturan perundang-undangan yang telah diperkuat oleh Mahkamah Konstitusi, hukuman mati merupakan hukuman yang konstitusional.

Selain itu, Mahkamah Agung telah menyarankan pada Presiden agar menolak permohonan grasi yang diajukan Ola. Soalnya, tidak ada alasan yang cukup untuk memberikan grasi tersebut. “Namun, kenapa Presiden dan para stafnya terkesan mengabaikan rekomendasi Mahkamah Agung?” ucap dia.

Kenehan terakhir terlihat dari pengabaian pada korban narkoba hanya demi Ola. Padahal, sudah banyak korban berjatuhan karena mengkonsumsi barang haram itu. “Rasa kemanusiaan dan keadilan atas jutaan korban dan keluarganya seharusnya tidak diabaikan hanya demi seorang Ola,” ujarnya.

Karena itu, dia menyarankan Yudhoyono untuk mengevaluasi para staf dan kementeriannya yang merekomendasikan pemberian keringanan pada terpidana narkoba itu. Penyelidikan terhadap dugaan mafia hukum yang bermain juga perlu dilakukan. “Selidiki apakah mafia narkoba ikut bermain dalam putusan grasi Ola atau tidak,” ucapnya.

Ola merupakan terpidana mati kasus penyelundupan kokain dan heroin di Bandara Soekarno-Hatta pada Januari 2000. Grasi yang diberikan Presiden membuat hukuman matinya dikurangi menjadi penjara seumur hidup. Setelah mendapat grasi, Ola yang masih mendekam di penjara wanita Tangerang diduga terlibat dalam kasus narkoba lagi.

Dia bahkan disebut-sebut sebagai otak pengedaran narkotik setelah Badan Narkotika Nasional menangkap Nur Aisyah pada 4 Oktober lalu di Bandung. Nur yang membawa sabu seberat 775 gram itu mengaku sebagai kurir Ola.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: